Perlunya Menguras Tandon Larutan Nutrisi Hidroponik

Pada waktu panen, mencabut tanaman dari lubang tanam pada talang di NFT, bila terlihat bahwa akar lebat, berwarna kelabu atau hitam kotor, maka sudah waktunya menguras tandon/reservoir, serta mengganti larutan pupuk A-B mix-nya, yang sudah amburadul komposisinya. Biasanya, kalau akar telah terlihat kumuh dan dekil, maka tanamannya pun sudah tidak cantik lagi penampilannya.
Perakaran yang sudah tercampuri oleh kompos, biasanya putusan-putusan akar yang membusuk, bila dicium sudah berbau lumpur. Putusnya akar mungkin disebabkan oleh hantaman aliran larutan pada talang NFT yang mengalir terlampau deras, kemudian mengalami proses pelapukan dan memberikan warna kelabu sampai hitam. Semakin gelap warna, semakin lama tandon tidak dikuras.
Ada pula hubungan besarnya ukuran tandon, dengan lebatnya pertanaman. Bila tanaman lebat, sedangkan tandonnya berukuran kecil, maka warna akar menghitam lebih cepat, dan semakin cepatlah pengurasan harus dilakukan. Bila tandon berukuran besar, waktu pengurasan bisa ditunda-tunda hingga masa waktu agak lama. Sebaiknya, bila akar sudah meningkat warnanya dari putih menjadi kelabu, anggaplah itu pertanda bahwa pengurasan harus segera dilakukan.
Akar yang putus, kemudian melapuk, menggunakan oksigen-terlarut untuk proses pelapukannya. Bila akar banyak terputus dan melapuk, maka oksigen-terlarut dalam larutan akan banyak tergunakan, dan hanya menyisakan sedikit bagi respirasi oleh akar. Hal ini akan mengendurkan proses respirasi, sehingga energi yang dihasilkan juga akan berkurang, disusul dengan segala konsekuensi kekurangan oksigen-terlarut.
Pengurasan tandon yang harus dilakukan selekas mungkin, kadang terhambat dengan masih banyaknya larutan di tandon, dan memerlukan waktu beberapa hari untuk membuatnya surut. Begitu permukaan larutan di tandon surut, segera lakukanlah pengurasan, dibantu dengan meng-agitasi dasar tandon, supaya lumpur bisa bersih turut terkuras.
Bila pompanya ada “backwash”-nya, maka kran ke instalasi hendaknya ditutup, sedangkan yang ke backwash dibuka, supaya larutan yang disedot oleh pompa dapat disalur-buangkan ke luar tandon, misalnya ke sawah atau ke lahan yang ditanami tanaman tahunan. Dengan demikian sisa pupuk yang ada di larutan itu tidak terbuang percuma, melainkan dimanfaatkan ke sawah.
Pada waktu yang bersamaan, dengan bantuan slang air bersih, talang juga disikat bersih, dan air cuciannya dibuang. Setelah semua talang dan tandon bersih dikuras, tandon diisi air bersih kembali hingga penuh. Diadakan penyesuaian pH dulu dengan angka yang kita inginkan, yang biasanya berkisar sekitar 6,0. Barulah kita masukkan pekatan/konsentrat A, diaduk, kemudian B. Siaplah larutan jadi untuk digunakan berproduksi.
Untuk menguras yang lebih efektif, tersedia pompa submersible khusus, yang bertenaga extra besar, diberi nama pompa sub “Dirty Water”, yang dalam waktu singkat bisa menguras air kotor sekian banyaknya dalam waktu yang singkat! Dapat dipastikan bahwa produksi berikutnya menghasilkan sayuran yang tinggi kualitas dan kuantitasnya!

semoga bermanfaat

artikelnya ambil dari Opa Yos, pakar hidroponik indonesia : YOS SUTIYOSO : CATATAN PENTING HIDROPONIK : Nomer urut 165

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *